]]>

Selasa, 29 Maret 2011

Ikutilah Sunnah Rasul

Ikutilah Sunnah Rasul dan jangan melakukan bid’ah

Bid’ah ada dua macam : duniawi dan keagamaan .
1.     Bid’ah duniawi ada dua macam : Bid’ah yang negative, seperti bioskop, TV, dan sejenisnya yang dapat merusak akhlak dan membahayakan masyarakat. Bahaya tersebut terjadi akibat film-film yang ditampilkannya. Tapi ada bid’ah yang positif seperti pesawat terbang, mobil, telepon dan lain-lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat dan mempermudah urusannya .

2.     Bid’ah Keagamaan, yaitu yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat sesudahnya. Bid’ah ini dilakukan dalam hal ibadah dan agama. Bentuk Bid’ah ini merupakan Bid’ah yang di tolak oleh islam dan hukumnya sesat .

a.       Allah SWT berfirman mengingkari kaum musyrik karena Bid’ah mereka,
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah.”
(Asy-Syura: 21)
b.      Rasulullah SAW bersabda,
“Barang siapa yang melakukan pekerjaan yang tidak ada pada sunnahku, maka pekerjaan tersebut tidak di terima.” (HR.Muslim)
c.       Rasulullah SAW bersabda,
“Waspadalah terhadap hal-hal yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu kesesatan.” (HR.Ahmad)
d.      Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah menutup taubat setiap orang yang melakukan bid’ah sampai ia meninggalkannya.” (HR.thabrani dan lainnya)
e.       Ibnu Umar berkata,”Setiap bid’ah itu kesesatan meski di anggap orang sebagian kebaikan.”
f.        Imam Malik berkata,”Barang siapa yang mengadakan dalam Islam suatu bid’ah yang dianggapnya baik, maka ia telah menuduh bahwa nabi Muhammad SAW telah melakukanpenghianatan terhadap risalah, karena sesungguhnya Allah SWT berfirman,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)
g.       Imam asy-Syafi’I berkata,”Barang siapa melakukan istihsan berarti ia telah membuat syari’at. Jika istihsan diperbolehkan dalam agama, tentu hal itu diperolehkan juga bagi kaum intelektual yang tak beriman, dan diperbolehkan pula dilakukan dalam setiap masalah agama serta setiap orang dapat membuat syari’at baru bagi dirinya.”
h.      Ghadif berkata, “Suatu bid’ah tidak akan muncul kecuali karena ditinggalkannya sunnah.”
i.         Hasan al-Bashri mengatakan, “Janganlah kamu bersahabat dengan ahli bid’ah sehingga hatimu sakit.”
j.         Hujzaifah berkata, “Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW maka jangan kamu lakukan.”

Macam-Macam Bid’ah
Bid’ah adalah setiap hal yang tidak mempunyai dasar dalam agama, seperti :
1.     Upacara Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, malam nishfu Sya’ban, membaca surah Yasin Setiap malam Jum’at, dan sebagainya
2.     Berdzikir dengan tarian, tepuk tangan dan pukulan terbang, begitu juga meninggikan suara dan mengganti nama-nama Allah seperti dengan
ah, ih, aah, hua, hia
3.     Mengadakan acara selamatan dan mengundang para kyai untuk membaca al-Qur’an setelah wafatnya seseorang (tahlillan) dan lain sebagainya.

Akidah Ataukah Kekuasaan

Akidah Dahulu Ataukah Kekuasaan

Lewat manakah Islam akan tampil kembali memimpin dunia ?Da’I besar Muhammad Quthb menjawab persoalan ini dalam seuah kuliah yang disampaikannya di Dar al-Hadits, Makkah al-Mukarramah. Teks pertanyaan itu sebagai berikut :
“Sebagian orang berpendapat bahwa Islam akan kembali lewat kekuasaan, sebagian lain berpendapat bahwa Islam akan kembali dengan jalan meluruskan akidah dan tarbiyah (pendidikan) masyarakat. Manakah di antara dua pendapat ini yang benar?”

Beliau menjawab, “Bagaimana Islam akan tampil berkuasa di bumi, jika para du’at belum meluruskan akidah umat, beriman secara benar dan diuji keteguhan agama mereka, lalu mereka bersabar dan berjihad di jalan Allah. Bila berbagai hal itu telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, barulah agama agama Allah akan berkuasa dan hokum-hukumNya di terapkan di persada bumi. Persoalan ini amat jelas sekali. Kekuasaan itu tidak dating dari langit, tidak serta merta turun dari langit, tetapi melalui kesungguhan dan usaha manusia. Hal itulah yang diwajibkan oleh Allah atas manusia dengan FirmanNya,
‘Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.’ (QS.Muhammad :4)

Karana itu, kita mesti memulai dengan meluruskan akidah, mendidik generasi pada akidah yang benar, sehingga terwujud suatu generasi yang tahan uji dan sabar oleh berbagai cobaan, sebagaimana yang terjadi pada generasi awal Islam.”

Golongan yang Selamat

Golongan yang Selamat

1.     Allah SWT berfirman :

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai .” (Ali Imran :103)

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka .” (Ar-Rum :31-32)

2.     Nabi SAW bersabda :

“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertaqwa kepada Allah, patuh dan taat, sekalipun yang memerintahkanmu adalah seorang budak Habsyi. Sebab barang siapa hidup (lama) di antara kamu, tentu ia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-Rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk . pegang teguhlah ia, dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat  tempatnya di dalam neraka).”(HR. an-Nasa’I dan at-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih).

3.     Dalam hadits yang lain Nabi SAW bersabda :

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, Tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.” (HR.ahmad dan yang lain. Al-Hafizh menggolongkannya hadits hasan).

4.     Dalam riwayat lain disebutkan :

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.” (HR. at-Tirmidzi, dan di hasankan oleh al-Bani dalam Shahih al-Jami’ 5219)

5.     Ibnu Mas’ud meriwayatkan :

“Rasulullah SAW membuat garis dengan tangannya lalu bersabda,’Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat, tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali padanya terdapat setan yang menyeru kepadanya. ‘Selanjutnya beliau membaca firman Allah SWT, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa’.” (Al-An’am: 153) (Hadits shahih riwayat Ahmad dan an-Nasa’i).

6.     Dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitabnya al-Ghunyah berkata, “…Adapun golongan yang selamat adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan Ahlus Sunnah , tidak ada nama lain bagi mereka kecuali satu nama, yaitu Ashhabul Hadits (para ahli hadits).”

7.      Allah memerintahkan agar kita berpegang teguh kepada al-Qur’an al-Karim, tidak termasuk golongan orang-orang musyrik yang memecah belah agama menjadi beberapa golongan dan kelompok. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani telah berpecah belah menjadi banyak golongan, sedang umat Islam akan berpecah lebih banyak lagi, golongan-golongan tersebut akan masuh neraka karena mereka menyimpang dan jauh dari Kitab suci al-Qur’an dan Sunnah NabiNya, dan hanya satu golongan yang selamat dan akan masuk ke dalam Surga yaitu al-Jama’ah, yang berpegang teguh kepada Kitab Suci al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, di samping melakukan amalan para sahabat dan Rasulullah SAW.


Ya Allah , jadikanlah kami termasuk dalam golongan yang selamat (Firqah Najiyah) , dan semoga segenap umat Islam termasuk di dalamnya.  Amin

Bid'ahnya Peringatan Maulid Nabi

Bid’ahnya Peringatan Maulid Nabi

Dalam peringatan maulid yang diselenggarakan, sering terjadi kemungkaran, bid’ah dan pelanggaran terhadap syariat islam.
            Peringatan maulid itu sendiri tidak pernah diselenggarakan oleh Rasulullah SAW, juga tidak oleh para sahabat, tabi’in dan imam yang empat, serta orang-orang yang hidup di abad abad kejayaan islam . lebih dari itu,tidak ada dalil syar’i yg menyerukan penyelenggaraan maulid Nabi SAW tersebut.
            Untuk lebih mengetahui hakikat maulid, marilah kita ikuti uraian berikut :
1.     Kebanyakan orang-orang yang menyalenggarakan peringatan maulid, terjerumus pada perbuatan syirik, yaitu ketika menyanandungkan syair-syair lagu. Seandainya Rasulullah SAW mendengar senandung tersebut, tentu beliau akan menghukuminya syirik besar. Sebab pemberi pertolongan, tempat sandaran dan pembebas dari segala penderita adalah hanya Allah semata. Allah berfirman ,

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan………?” (An-Naml: 62)

Allah memerintahkan Rasulullah agar memaklumkan kepada segenap manusia dalam firmanNya :
“Katakanlah,’Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan’.” (Al-Jin :21).

Dan Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda :
“Bila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.”
( HR. at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih” ).

2.     Kebanyakan perayaan maulid yang diadakan berlabihan dalam menyanjung Nabi SAW. Padahal Nabi SAW melarang hal tersebut. Rasulullah SAW bersabda :

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanyalah seorang hamba, maka katakanlah (padaku),’Abdullah (hamba Allah) dan RasulNya’.”
(HR. al-Bukhari).

3.     Dalam buku Maulid al-Urus dan lainnya, disebutkan bahwa Allah menciptakan Muhammad SAW dari cahayaNya, lalu menciptakan segala sesuatu dari cahaya Muhammad. Al-Qur’an mendustakannya, dalam FirmanNya :
“Katakanlah,’Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku,’ Bahwa sesunggguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa’.” (Al-Kahfi: 110)

Padahal, sebagaimana diketakui, Rasulullah SAW diciptakan dengan melalui perantara seorang bapak dan seorang ibu. Ia adalah manusia biasa yang dimuliakan dengan karunia wahyu oleh Allah.

Dalam peringatan maulid tersebut, sebagian mereka mengalun-alunkan bahwa Allah menciptakan alam semesta karena Muhammad. Al-Qur’an mendustakan apa yang mereka katakana itu. Allah barfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainnkan supaya mereka menyambahKu.” (Adz-Dzariyat :56)

4.     Merayakan hari kelahiran Isa al-Masih adalah tradisi orang-orang Nasrani. Demikian pula dengan perayaan hari ulang tahun setiap anggota keluarga mereka. Lalu, umat Islam ikut-ikutan merayakan bid’ah tersebut. Yakni merayakan hari kelahiran Nabi mereka, juga ulang tahun kelahiran setiap aanggota keluarganya. Padahal Rasulullah SAW telah mewanti-wanti, :
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka,”
(HR.abu Dawud, Hadits Shahih).

5.     Dalam peringatan maulid Nabi tersebut, banyak terjadi ikhtilath (campur baur antara ikhwan dan akhwat) hal yang sesungguhnya di haramkan oleh islam.

6.     Uang yang dibelanjakan untuk keperluan dekorasi, konsumsi, transportasi dan sebagainya terkadang mencapai jutaan. Uang yang habis dalam segenap itu, padahal mengumpulkannya sering dengan susah payah, sesungguhnya lebih di butuhkan umat islam untuk kepentingan yang lain, seperti membantu fakir miskin, member beasiswa belajar bagi anak-anak orangislam yang tidak mampu, menyantuni anak yatim dan sebagainya. Disamping, dalam peringatan maulid tersebut, sering terjadi pemborosan. Sesuatu yang amat menyanangkan orang-orang kafir, karena barang produksi mereka laku. Padahal Rasulullah SAW melarang secara tegas menyia-nyiakan harta.

7.     Waktu yang dipergunakan untuk mempersiapkan dekorasi, konsumsi dan transportasi sering membuat lengah para penyalanggara maulid, sehingga tak jarang sebagian mereka sampai meninggalkan shalat.

8.     Sudah menjadi tradisi dalam peringatan maulid, bahwa di akhir bacaan maulid sebagian hadirin berdiri, karena mereka mempercayai pada waktu itu Rasulullah SAW hadir. Ini adalah kedustaan yang nyata. Sebab Allah SWT berfirman :

“Dan di hadapan meraka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”
(Al-Mu’minun :100).
Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatas antara dunia dengan akhirat. Anas bin Malik ra berkata :

“Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat dari pada Rasulullah SAW. Tetapi jika mereka melihat Rasulullah, mereka tahu bahwa Rasulullah membenci hal tersebut.” (HR. ahmad dan at-Tirmidzi,hadits shahih).

9.     Sebagian orang mengatakan, “Dalam maulid, kami membaca sirah Rasul (sejarah perjalanan hidup Rasulullah SAW). Tetapi pada kenyataannya mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sabda dan perjalanan hidup beliau. Seorang yang mencintai Rasulullah SAW adalah yang membaca sirah beliau setiap hari bukan setiap tahun. Belum lagi bahwa pada bulan Rabi’ul Awal, bulan kelahiran nabi, juga merupakan bulan dimana Rasulullah wafat. Karena itu, bersuka cita di dalamnya tidak lebih utama dari pada berkabung pada bulan tersebut.

10.Tak jarang peringatan maulid itu berlarut hingga tengah malam, sehingga menjadikan sebagian mereka paling tidak, meninggalkan shalat Subuh berjamaah, atau malahan tidak shalat Subuh.

11.Banyaknya orang yang menyalanggarakan peringatan maulid bukan suatu alasan bagi pembenaran hal tersebut. Sebab Allah SWT berfirman :

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am: 116).
Hudzaifah berkata, “Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun menurut manusia hal itu dianggap baik.”

12.Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah, sejak dulu adalah kelompok minoritas di antara manusia. Demikian pula, sampai saat ini mereka adalah minoritas. Mereka tidak mengikuti para tukang maksiat dalam kemaksiatan mereka, tidak pula para ahli bid’ah dalam perbuatan bid’ah mereka. Mereka bersabar atas sunnah-sunnah, sampai mereka menghadap Rabb mereka. Demikianlah, kerena itu jadilah kalian sebagai Ahlus Sunnah.”

13.Sesungguhnya yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Raja al-Muzhaffar di negri Syam, pada awal abad ke tujuh hijriah. Sedangkan yang pertama kali mengadakan maulid di mesir yaitu Bani Fathimah. Mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir adalah orang-orang kafir dan fasik. Bukalah kembali bab “Kuburan-kuburan yang diziarahi.”
Sumber :         Buku  “Jalan Golongan yang Selamat”
(Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu)